Telp : 031-5921516

Jarot, Mahasiswa Teknik Informatika Untag Surabaya Membuat Tongkat "Mata" Tuna Netra

Sabtu, 17 Maret 2018 - 14:02:07 WIB
Dibaca: 67 kali


Pernahkah anda membayangkan bagaimana menjadi seorang tuna netra ?
Pernahkah anda membayangkan bagaimana mereka berjalan ?
Pernahkah anda membayangkan bagaimana mereka bepergian ?
Membayangkannya saja sudah sangat merepotkan bagi kita. Tapi memang begitulah kenyataannya, kondisi tuna netra yang serba kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari hari. Dalam berjalan mereka harus senantiasa "meraba raba" jalan yang akan mereka lalui, agar menghindarkan dari bahaya. Secara umum, tuna netra menggunakan tongkat untuk "meraba" halangan disepanjang jalan yang mereka lalui. Namun tentu saja hal tersebut masih menyulitkan bagi para penyandang tuna netra, karena tongkat yang mereka gunakan masih belum bisa "meraba" hal hal yang bergerak, misalnya kendaraan yang sedang lewat, dan sebagainya.

 

Menyadari kesulitan itu, salah satu mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Jarot Bangun Purnomo memutuskan untuk membuat tongkat sebagai "Mata" bagi para penyandang tuna netra.

 

Ide ini bermula dari keprihatinan Jarot yang semasa kecilnya memiliki teman sekolah dengan penglihatan yang buruk. Teman SD-nya di SDN Klampis Ngasem 2 Surabaya ini hidup dalam keadaan yang serba terbatas baik secara ekonomi maupun kondisi fisik.


"Saya lihat itu, mas, tiap hari dijemput ibunya naik sepeda ontel, sekalian ibunya juga jualan di depan sekolah. Jadi rombong jualannya di belakang, dianya di tengah, trus ibunya nuntun gitu. Tiap hari gitu mas," kata Jarot ketika diwawancarai oleh berbagai media.

Dari sinilah alasan mahasiswa semester 9 Teknik Informatika Untag ini membuat Tongkat "Mata" Tuna Netra ini.

 

Tongkat ini bekerja seperti halnya kelelawar. Dia akan memancarkan gelombang sinyal, sinyal tersebut akan memantul kembali jika terhalang oleh sesuatu, misalnya tembok atau benda lain. Ketika pantulan sinyal tersebut sudah kembali, dia akan mengaktifkan buzzer, semacam alaram bunyi. Maka buzzer akan berbunti "tiiit" jika terdeteksi ada halangan dijalan yang akan dilalui oleh tuna netra, kemudian penyandang tuna netra bisa memilih untuk berbelok arah atau yang linnya untuk menghindari halangan tersebut.
Jenis bunyi buzzer yang digunakan Jarot mirip seperti bunyi sensor mobil, dimana buzzer akan berbunyi ketika mendeteksi halangan, dan bunyi buzzer akan semakin sering jika halangan tersebut semakin dekat. Sebagai tambahan, mahasiswa yang sejak SMP menggemari komputer ini menambahkan vibrator pada tongkat "Mata" temuannya.
Fungsinya sama seperti buzzer yang akan aktif jika mendeteksi halangan, hanya saja vibrator ini menghasilkan getaran, bukan bunyi seperti buzzer.

 

Jarot menyadari bahwa sebelum dia, sudah ada orang lain yang membuat tongkat tuna netra serupa miliknya. Maka Jarot menganalisa tongkat tuna netra yang sebelumnya sudah diciptakan oleh orang lain, Jarot menemukan bahwa sebagian besar tongkat tuna netra yang dibuat oleh orang lain masih menggunakan sumber listrik yang berasal dari batrei. Dan batrei tersebut harus diganti atau diisi ulang ketika habis dayanya. Proses penggantian batrei ini tentu menyulitkan bagi penyandang tuna netra, bagaimana jika sedang digunakan ditengah jalan, kemudian tiba tiba alatnya kehabisan daya batrei, pertama sudah tidak bisa digunakan, kedua penyandang tuna netra tentu akan kesulitan dalam mengganti atau mengisi ulang daya batrei.


Maka Jarot kembali berinovasi dengan menambahkan panel tenaga surya pada tongkat "Mata" buatannya. Panel tenaga surya ini akan otomatis mengisi daya batrei ketika terkena cahaya matahari, sehingga pengguna tidak perlu lagi repot repot untuk mengisi ulang daya batrei dan juga tidak perlu khawatir akan kehabisan daya batrei ditengah perjalanan.

 

Mengomentari alat buatan mahasiswanya, Dr Ir Muaffaq A Jani, M.Eng., yang merupakan salah satu dosen Teknik Informatika Untag Surabaya menyatakan bahwa alat ini dapat membantu penyandang tuna netra agar bisa lebih mandiri. Selain itu dengan tambahan inovasi panel tenaga surya, penyandang tuna netra tidak perlu lagi mengalami kerepotan dan bergantung kepada orang lain, terutama untuk mengisi daya perangkat tersebut.

 

Kedepan, Jarot ingin mengembangkan lagi tongkat "Mata" Tuna Netra buatannya agar lebih baik lagi. Dimulai dari desain alat yang tahan terhadap cuaca baik panas maupun hujan, serta desain alat menjadi lebih ramping lagi.(adm/ars)

 

Alat temuan Jarot, mahasiswa Teknik Informatika Untag Surabaya ini sempat viral dan mengundang berbagai wartawan media untuk meliputnya, antara lain adalah pada link berikut :
Dari Surabaya, Inovasi Tongkat Ultrasonik untuk Tuna Netra
Mahasiswa ini Telorkan Tongkat 'Ajaib' untuk Tuna Netra
Prihatin Dengan Kondisi Tuna Netra, Mahasiswa UNTAG Ciptakan Tongkat Pendeteksi Halangan Bertenaga Matahari

Tongkat Pendeteksi Halangan Untuk Tunanetra Karya Mahasiswa Teknik Informatika Untag Surabaya